Kota-kota di Selandia Baru
Pemerintah Selandia Baru melakukan tata ulang sistem pemerintahannya pada tahun 1989 dan merombak penamaan dan struktur tata kota. Pemerintah membentuk distrik-distrik baru dan city councils yang secara umum lebih besar dan dapat mencakup daerah perkotaan dan pinggiran.
Saat ini beberapa tempat memiliki city council yang diatur oleh district council. Julukan city atau kota besar sebelum tahun 1989 sangat membingungkan dimana setiap orang pada masa itu menyebut semua kota di Selandia Baru dengan julukan City yang seharusnya julukan tersebut hanya ditujukan untuk kota besar yang menjadi pusat kehidupan banyak orang dengan kelengkapan fasilitas perkotaan di dalamnya.
Perombakan sistem pemerintahan pada tahun 1989 menyebutkan 5 area yang dapat disebut Kota atau City di Selandia Baru, dan kota-kota tersebut adalah :
1. Auckland
Auckland merupakan kota terbesar di Selandia Baru yang memiliki penduduk terbanyak sejumlah 13 juta jiwa, dengan populasi yang beragam antara pendatang dari Eropa, bangsa Polinesia, Asia, Maori dan Hispanik. Di kota ini terletak Bandara Internasional yang juga berfungsi sebagai pintu gerbang masuk utama ke Selandia Baru. Iklim di Auckland cenderung hangat, dengan musim panas yang lembut dan lembab serta musim dingin yang basah, namun kota ini adalah kota yang paling cerah di Selandia Baru.
Auckland juga dikenal sebagai kota pelabuhan dimana setiap tahunnya terdapat lebih dari 135,000 berlabuh. Tak jauh dari pelabuhan terdapat berbagai restoran, klab, kafe dan beberapa tempat hiburan. Jika ingin mengunjungi pusat keramaian yang lain datanglah ke High Street, Queen Street atau ke pusat kota, dimana anda juga akan dapat menemukan tempat belanja dan pusat kebudayaan seperti galeri, teater dan lain-lain. Sedangkan daya tarik pariwisata alam di kota ini adalah beberapa taman nasional dan kumpulan gunung berapi yang masih aktif.
2. Dunedin
Dunedin adalah kota kedua terbesar di Pulau Selatan yang dulunya diberi nama Otago. Letak kota ini berada di bukit dan lembah mengelilingi Pelabuhan Otago. Kota ini merupakan kota tertua yang memiliki daya tarik tersendiri dari kekayaan pencampuran budaya, arsitektur yang artistic, dan kecantikan alam liar yang sangat terkenal di Semenanjung Otago. Di Dunedin anda dapat menemui akomodasi, restoran, tempat seni dan atraksi wisata dalam berbagai jenis serta Eco Tour dan Cruise yang akan membawa anda menjelajah alam di Semenanjung Otago.
3. Christchurch
Kota ini adalah kota terbesar di Pulau Selatan dan merupakan kota ketiga yang memiliki penduduk terbanyak di Selandia Baru. Kota yang terletak di garis pantai pelabuhan ini memiliki pemandangan indah Taman Nasional New Forest. Kombinasi adat istiadat, garis pantai dan daerah pinggiran yang luar biasa ditambah atraksi pariwisata yang menarik dan beragam membuat Christchurch menjadi salah satu tujuan wisata favorit. Christchurch memiliki banyak taman nasional dan kebun yang membuat kota ini akhirnya dinamakan Garden City, kota Kebun. Anda juga akan dapat menemukan banyak bioskop dan teater serta tempat yang memainkan live music termasuk juga Simfoni Orkestra Profesional. Tak hanya itu, tempat menarik lainnya adalah Gelanggang Olah raga, Auditorium dan Kasino.
4. Wellington
Kota Wellington adalah ibukota Selandia Baru, yang juga termasuk kota kedua yang memiliki banyak penduduk yang disebut Windy City atau Kota Angin. Disinilah pusat pemerintahan Selandia Baru dijalankan dimana terdapat Gedung Parlemen dengan seluruh pusat Departemen berada di sini. Wellington menawarkan atraksi dalam berbagai bidang dimana wistawan dapat mengalami banyak hal yang tak terlupakan dalam kunjungannya ke kota Angin ini, yaitu Pertunjukaan Seni, Café, Pertunjukan Budaya dan kehidupan malam dari kebanyakan kota yang memiliki ukuran yang sama. Tak hanya itu, beragam kuliner, toko, wisata alam dan juga kebun anggur menjadi daya tarik tersendiri yang dapat ditemukan hanya dalam satu kota.
5. Nelson
Kota Nelson adalah salah satu kota yang berada di tengah-tengah Selandia Baru, berada di Pulau Selatan di dekat teluk Tasman. Kota ini dikenal sebagai kota seni dan kerajinan yang setiap tahunnya diramaikan dengan Festival Seni Nelson (Nelson Art Festival) juga Wearable Art Awards yang menampilkan baju karya rancangan terbaik. Selain itu Kota Nelson adalah tujuan untuk melakukan berbagai olahraga air atau kegiatan petualangan di tempat-tempat yang luar biasa indah. Kota Nelson memiliki kesuburan tanah pegunungan dan pantai yang tenang dan panjang yang disinari sinar matahari selama beberapa jam setiap hari.
Pulau Utara dan Selatan dipisahkan oleh Selat Cook sepanjang 20 km, yang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil lainnya yaitu Steward Island, Waiheke Island, Great Barrier Island, dan Chatham Island. Kecantikan muka bumi di Selandia Baru sangat beragam, dengan kondisi alam yang berusia lebih dari 500 juta tahun yang dulunya merupakan bagian dari benua kuno Gondwana, yang terpisah 80 juta tahun yang lalu. Keadaan yang mencerminkan keelokan kecantikan alam masa lampau inilah yang menjadi daya tarik pariwisata negara ini.
Gunung yang diselimuti es, gletser atau sungai es dan daratan dengan iklim dingin terdapat di pulau Selatan, yang dapat dicapai baik oleh pendaki gunung atau petualang yang bersepeda, dengan helicopter atau berjalan kaki. Gletser yang terkenal adalah Tasman Gletser dan Franz Josef dan Fox. Ada juga gunung-gunung bawah laut yang menawarkan pemandangan indah dengan semak-semak hijau di perairan yang jernih dan dalam sangat cocok sebagai tempat untuk berlayar atau kayaking.
Musim panas dimulai pada bulan Desember sampai Februari dimana banyak penduduk menghabiskan waktunya dengan berenang, berjemur, berselancar, berperahu ataupun melakukan kegiatan lainnya. Bulan Maret hingga Mei adalah musim gugur dimana pohon-pohon mempersembahkan pemandangan indah dengan daunnya yang mulai berubah warna.
Disini juga hidup penguin dan ikan paus serta lumba-lumba, juga binatang purba bernama Tuatara yang masih dilestarikan hingga saat ini. Sama dengan hewan-hewannya, tetumbuhan di Selandia Baru juga masih merupakan turunan asli dari tetumbuhan purba dengan aneka ragam jenis pepohonan, semak-semak dan juga tumbungah bunga. Wisatawan yang berkunjung akan terkesima dengan hutannya yang ditumbuhi aneka ragam pohon langka termasuk Rimu dan Totara, juga pohon paling tua yaitu pohon raksasa yang dinamakan Kauri. 20% wilayah Selandia Baru adalah Taman Nasional dimana wilayah hutan dan sumber daya alam lainnya dilindungi oleh Pemerintah.
Sebelum ditemukan oleh bangsa Polinesia, Selandia Baru adalah kepulauan yang tidak berpenghuni dan terisolasi selama 80 miliar tahun, terpisahkan dari daratan Australia oleh Laut Tasman. Selandia Baru, juga Australia, adalah merupakan salah satu bagian dari benua raksasa Gondwana yang mulai memisahkan diri akibat dari jaman es pada 150 miliar tahun yang lalu. Selama bermilar-miliar tahun tidak ada manusia yang menjamah pulau ini, dan itulah sebabnya struktur alam di Selandia Baru berbeda dengan Negara yang lain, dan wajah alam yang berusia miliaran tahun masih dapat dilihat sampai saat ini.
Abel Janszoon Tasman menemukan kepulauan ini pada tahun 1642 dan menamakannya Staten Landt karena meyakini bahwa daratan tersebut merupakan bagian dari pesisir Argentina. Setelah diketahui bahwa daratan tersebut bukanlah bagian dari benua Amerika, maka namanya segera diganti dengan nama Nieuw Zeeland oleh para pembuat map Belanda. Sayangnya Tasman dan seluruh krunya diserang dan banyak krunya dibunuh oleh bangsa Maori karena keterbatasan bahasa dan setelah itu Tasman menarik pasukannya dan bertolak dari Selandia Baru. Sejak Tasman tidak ada lagi bangsa Eropa yang datang, hingga kemudian James Cook yang berkebangsaan Inggris datang pada tahun 1768. Cook ditemani oleh seorang Polinesia bernama Tupaia yang menjadi penerjemah selama mengelilingi Selandia Baru, dan menolong Cook untuk berkomunikasi dengan penduduk Maori. Cook mengitari seluruh pulau dalam waktu 6 bulan dan memberi nama tempat-tempat yang ada di sana juga memberi nama kepulauan itu menjadi New Zealand.
Sejak kedatangan James Cook, banyak bangsa mendatangi Selandia Baru seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, dan bangsa Eropa lainnya baik Amerika baik untuk berdagang, menyebarkan agama atau sekedar untuk singgah. Bangsa-bangsa tersebut juga mengklaim bahwa kepulauan tersebut merupakan wilayah Negara mereka tapi tidak ada bukti kuat mengenai hal itu. Migrasi masyarakat dari bangsa Eropa terus berdatangan untuk menetap di Selandia Baru. Banyak konflik terjadi dengan bangsa Maori disebabkan adanya perbedaan pemahaman tentang kepemilikan tanah. Saat itu, beberapa daerah tidak memiliki hukum, hingga akhirnya untuk menyelamatkan keadaan, Kerajaan Inggris mengirim William Hobson pada sekitar tahun 1839 untuk mengadakan perjanjian dengan bangsa Maori yang kemudian disebut dengan perjanjian “The Treaty of Waitangi” yang disetujui oleh kedua belah pihak di Teluk Pulau pada tanggal 6 Februari 1840. Perjanjian ini menjanjikan adanya perlindungan hak atas kepemilikan tanah dan pemerintahan baik kepada warga pendatang ataupun kepada bangsa Maori, namun pada prakteknya malah menimbulkan percekcokan dan bahkan perang (Taranaki /1860,1865-69; Waikato/1863; East Coast/1868-72) antara pendatang (disebut Pakeha) dan bangsa Maori. Peperangan ini dimenangkan oleh Pendatang (Pakeha) dan sejak saat itu Selandia Baru berada di bawah pemerintahan Kerajaan Inggris.
Memasuki abad ke 20, keadaan di Selandia Baru menjadi lebih tenang, kejayaan meningkat terutama karena ditemukannya tambang emas. Pada tahun 1907 Kerajaan Inggris memberlakukan Selandia Baru sebagai bagian dari kolonialnya, memberikan otonomi daerah pada tahun 1931 dan memerdekakan pada tahun 1947. Banyak penduduk Selandia Baru yang bangga menjadi koloni Inggris, terbukti dari banyaknya sukarelawan yang turut serta membela Inggris pada Perang Dunia Ke 1.